https://nusautaratv.com/
Tutup Menu
27 Mar 2026 | Dilihat: 1149 Kali

Layangan Raksasa Turun ke Lapangan, Bocah-Bocah Ini Cari Angin di Tengah Ramainya Merdeka

noeh21
      
Nustar TV nusautaratv.com, BALIKPAPAN - Di tengah padatnya aktivitas akhir pekan di Lapangan Merdeka, lima anak terlihat mengambil ruang berbeda. Bukan berlari, bukan bermain bola. Mereka membentangkan layangan naga berukuran puluhan meter di atas rumput, menunggu satu hal yang belum datang yakni angin.
 
Layangan itu memanjang hampir sepanjang sisi lapangan. Kepala ditempatkan di depan, sementara badan tersusun dari puluhan segmen yang harus dijaga tetap lurus. Lima anak berdiri di beberapa titik, memastikan rangkaian tidak kusut sebelum diterbangkan.
 
Mereka datang dari Klandasan.
Kelimanya masih usia sekolah. Danis, pelajar kelas tujuh berusia sekitar 12-13 tahun, memegang bagian kepala layangan. Empat lainnya, dari kelas 4 hingga kelas 6, menjaga bagian badan.
 
“Baru pertama kali mau diterbangkan,” kata Danis.
 
Layangan tersebut bukan buatan sendiri. Dibeli dari temannya di Jawa seharga Rp750 ribu, lalu dikirim menggunakan jasa ekspedisi dengan waktu pengiriman sekitar empat hingga lima hari. Danis mengaku membeli menggunakan uang sendiri, setelah mendapat izin dari orang tuanya.
 
Perjalanan menuju Lapangan Merdeka juga tidak sederhana. Dengan ukuran layangan yang panjang dan berat, mereka harus membaginya dalam beberapa bagian.
 
Sebagian dibawa menggunakan sepeda, sementara lainnya diangkut dengan angkutan kota. Dari Klandasan, jarak yang ditempuh sekitar tiga kilometer.

 
Setibanya di lapangan, mereka langsung merakit. Kepala dipasang lebih dulu, lalu badan disusun satu per satu. Semakin panjang tersusun, semakin banyak perhatian yang datang.
 
Pengunjung yang awalnya berolahraga mulai melambat. Beberapa mendekat. Anak-anak menunjuk bagian kepala layangan, sementara orang dewasa berdiri memperhatikan prosesnya.
 
Percobaan menerbangkan dilakukan beberapa kali. Tali ditarik, badan diangkat. Layangan sempat bergerak, namun belum mampu terbang. Kendalanya bukan pada ukuran atau cara memasang, melainkan kondisi angin yang belum cukup kuat.
 
“Masih kurang angin,” ujar Danis.
 
Mereka tetap bertahan di posisi masing-masing, menunggu kondisi berubah. Sesekali mencoba kembali, lalu berhenti lagi.
 
Lapangan Merdeka yang selama ini menjadi pusat olahraga, kuliner, dan ruang santai warga, pagi itu juga menjadi ruang bagi aktivitas lain menyalurkan hobi di tengah keterbatasan kondisi.
 
Di antara ramainya orang beraktivitas, lima anak itu tetap fokus pada satu tujuan: membuat layangan naga mereka benar-benar terangkat dari tanah.
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas