https://nusautaratv.com/
Tutup Menu
04 Feb 2026 | Dilihat: 1161 Kali

Januari 2026, Inflasi di Balikpapan dan PPU Melandai

noeh21
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi
      
Nustar TV nusautaratv.com, Balikpapan - Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser utara (PPU) pada Januari 2026 melandai dibandingkan bulan Desember 2025.
 
Kondisi ini sejalan dengan normalisasi permintaan dan mobilitas masyarakat setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru 2025–2026, serta terjaganya pasokan sejumlah komoditas bahan pangan.
 
Pada Januari 2026, Balikpapan mencatatkan deflasi sebesar 0,11 persen (mtm), sementara PPU mencatat Inflasi sebesar 0,05 persen (mtm). 
 
Dengan kondisi tersebut, secara tahunan IHK Kota Balikpapan tercatat inflasi sebesar 3,26 persen (yoy), sementara inflasi tahunan PPU sebesar 2,75 persen (yoy). 
 
"Inflasi tahunan kedua daerah tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan inflasi gabungan empat Kota di Kaltim sebesar 3,76 persen (yoy), serta lebih rendah dibandingkan dengan inflasi tahunan nasional yang sebesar 3,55 persen (yoy). Realisasi tersebut juga masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional tahun 2026, yaitu 2,5 persen±1 persen," kata Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi dalam keterangan tertulis, Selasa (3/2/2026)

 
Ia menyebutkan, penyumbang deflasi terbesar di Balikpapan dikontribusikan oleh Kelompok Transportasi, dengan andil sebesar -0,28 persen (mtm). 
 
Adapun, lima komoditas utama penyumbang deflasi terdalam di Balikpapan pada Januari 2026 diantaranya, Angkutan Udara, Bensin, Cabai Rawit, Sekolah Menengah Atas, dan Cabai Merah. 
 
Penurunan tarif Angkutan Udara didukung oleh kembali normalnya mobilitas masyarakat pasca berakhirnya periode puncak libur Nataru 2025-2026. 
 
Kemudian, penurunan harga Bensin merupakan dampak dari kebijakan penurunan harga Pertamax sebesar Rp400,-per liter yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 2026 sesuai dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
 
Komoditas Cabai Rawit dan Cabai Merah mengalami penurunan harga didukung oleh meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi, sejalan dengan mulai masuknya periode panen. 
 
Selanjutnya, penurunan tarif Sekolah Menengah Atas didukung oleh implementasi Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BSOP) di wilayah Kalimantan Timur, sehingga berdampak pada berkurangnya biaya sekolah yang ditanggung oleh orang tua siswa, termasuk untuk sekolah swasta.
 
Di sisi lain, penyumbang inflasi di Kota Balikpapan terutama bersumber dari Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, dengan andil sebesar 0,18 persen (mtm).
 
"Komoditas utama yang menyumbang inflasi tertinggi di Balikpapan periode Januari 2026 yaitu Emas Perhiasan, Daging Ayam Ras, Bahan Bakar Rumah Tangga, Baju Muslim Anak, dan Mobil," terang Robi.
 
Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa penyumbang terbesar inflasi PPU bersumber dari kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau, dengan andil inflasi sebesar 0,05 persen (mtm).
 
Komoditas utama penyumbang inflasi tertinggi di PPU pada Januari 2026 diantaranya Ikan Tongkol, Tomat, Daging Ayam Ras, Kayu Balokan, Emas Perhiasan.
 
Disamping itu, penyumbang deflasi terbesar di PPU adalah kelompok Transportasi dengan andil deflasi sebesar 0,05 persen (mtm). Selanjutnya, lima komoditas utama penyumbang deflasi terdalam di PPU yaitu Cabai Merah, Cabai Rawit, Buncis, Bawang Merah, Jagung Manis. 
 
"Ke depan, kami mencermati beberapa risiko yang akan memengaruhi tekanan inflasi, diantaranya prakiraan musim hujan yang akan memasuki puncaknya pada awal tahun 2026 disertai prakiraan masih akan terjadinya gelombang laut yang tinggi, serta risiko banjir di beberapa wilayah, termasuk di sejumlah daerah sentra produksi," ujarnya.
 
Kondisi ini, kata Robi, akan menjadi tantangan bagi pemenuhan pasokan komoditas pertanian ke depan, sehingga berisiko dapat memengaruhi ketersediaan pasokan produk pertanian, khususnya untuk komoditas hortikultura dan perikanan laut. 
 
Sejalan dengan itu, masuknya periode Ramadhan dan HBKN Idul Fitri 2026 juga berpotensi mendorong peningkatan permintaan, sehingga berisiko meningkatkan harga, terutama apabila permintaan tidak didukung oleh ketersediaan pasokan yang cukup. 
 
Potensi permintaan yang menguat tersebut selaras dengan hasil Survei Konsumen di Kota Balikpapan yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan pada Januari 2026 yang menunjukkan level keyakinan konsumen yang tetap optimis. 
 
Hal ini terkonfirmasi oleh nilai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tercatat sebesar 129,3 (level yang optimis, dengan nilai indeks >100), lebih tinggi dibandingkan tingkat keyakinan pada Desember 2025 yang sebesar 122,7. 
 
"Optimisme konsumen tersebut menunjukkan menguatnya tingkat keyakinan konsumen saat ini dan ekspektasi masyarakat terhadap prospek ekonomi enam bulan ke depan," tutup Robi.
 
Ke depan, Bank Indonesia akan senantiasa bersinergi dengan berbagai pihak melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) untuk menjaga tingkat inflasi daerah pada rentang sasaran inflasi nasional 2026, yaitu sebesar 2,5 persen ± 1 persen.
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas