NusaUtaraTV.Com || BALIKPAPAN: Pemerintah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama tiga hari, Rabu (14/10/2026) hingga Jumat (16/10/2026). Kebijakan ini diambil karena kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Aturan itu tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Balikpapan Nomor 100.3.4.3/2590/E/SETDA. Kegiatan tatap muka di TK/PAUD/PNF/SKB, SD, dan SMP negeri maupun swasta dihentikan sementara dan dialihkan ke daring dari rumah. Tujuannya mengurangi risiko gangguan kesehatan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Wali Kota Balikpapan Dr H Rahmad Mas'ud, SE., ME., menegaskan PJJ bukan libur.
"Ini bukan sekolah diliburkan. Pembelajaran tetap berjalan, hanya untuk sementara dilakukan dari rumah karena kita melihat kondisi udara yang kurang baik. Keselamatan dan kesehatan anak-anak menjadi pertimbangan utama," kata Rahmad, Selasa (13/10/2026).
Keputusan diambil setelah Pemkot berkoordinasi dengan Disdikbud dan perangkat daerah terkait. Untuk SMA yang berada di bawah kewenangan Pemprov Kaltim, koordinasi akan dilakukan lebih lanjut dengan provinsi.
Guru Tetap Bertugas, Tugas Siswa Tak Berlebihan
Selama PJJ, guru dan tenaga kependidikan tetap menjalankan tugas sesuai pengaturan kepala sekolah. Materi diarahkan pada kegiatan terstruktur, literasi, dan penguatan karakter. Sekolah diminta tidak memberi tugas berlebihan. Kehadiran siswa, guru, dan tenaga kependidikan tetap dicatat daring, dan sekolah diminta aktif berkomunikasi dengan orang tua lewat grup kelas.
"Anak-anak tetap belajar dan orang tua juga kami minta membantu mengawasi kegiatan mereka di rumah. Jangan sampai karena PJJ kemudian dianggap libur," ujar Rahmad.
Orang tua juga diminta membatasi aktivitas anak di luar rumah selama kabut asap masih terasa.
Dasar: Udara Tidak Sehat
Pada Senin (12/10/2026), Stasiun AQMS Sepinggan mencatat PM2.5 sebesar 108 µg/m³. Pukul 09.00 WITA, ISPU tercatat 101, kategori tidak sehat. PM10 mencapai 146 µg/m³. Kepala DLH Balikpapan Sudirman Djayaleksana membenarkan kondisi itu.
"Nilai tersebut masuk dalam kategori tidak sehat," kata Sudirman.
Dievaluasi Setiap Hari
PJJ bukan kebijakan permanen. Disdikbud bersama instansi terkait akan memantau ISPU selama PJJ, dan hasilnya menentukan apakah tatap muka bisa kembali.
"Kita akan evaluasi kondisi udara. Kalau sudah membaik dan aman bagi anak-anak, tentu pembelajaran tatap muka bisa kembali dilaksanakan. Yang paling penting jangan sampai kegiatan belajar mengajar mengorbankan kesehatan peserta didik," ujarnya.
Pemkot mengimbau warga menerapkan PHBS, memperbanyak minum air putih dan makanan bergizi, serta memakai masker yang layak saat di luar rumah. Warga dengan gejala ISPA diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.