Oleh: Ketua KPU Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono
Nustar TV
nusautaratv.
com, BALIKPAPAN - Ulang tahun kota selalu lebih dari sekadar angka. Ia adalah cermin perjalanan. Cermin cara kita merawat ruang. Cara kita hidup bersama. Cara kita mengambil keputusan untuk masa depan.
Balikpapan kini berusia 129 tahun. Bagi ukuran kota modern, ini usia yang matang. Tidak lagi meraba arah, tapi juga belum selesai bertumbuh. Masih ada pekerjaan rumah. Masih ada ruang perbaikan. Menuju cita cita ideal.
Balikpapan dikenal sebagai kota minyak. Titik awal pertumbuhannya sering ditandai pada tahun 1897, saat pengeboran minyak pertama dilakukan di wilayah ini. Dari situ denyut ekonomi terbentuk. Industri energi membangun fondasi. Infrastruktur berkembang dan penduduk berdatangan.
Namun, Balikpapan hari ini bukan hanya kota energi. Ia telah menjadi kota jasa, perdagangan, logistik, dan penyangga utama Kalimantan Timur.
Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman termasuk salah satu bandara tersibuk di kawasan Kalimantan. Pelabuhan Semayang menjadi simpul penting pergerakan barang dan penumpang. Konektivitas kota ini hidup.
Jumlah penduduk Balikpapan kini berada di kisaran hampir menembus 800 ratus ribu jiwa. Mendekati tiga perempat juta penduduk berdasarkan data statistik daerah beberapa tahun terakhir. Pertumbuhannya stabil. Urbanisasinya terukur. Komposisi warganya beragam. Ini miniatur Indonesia dalam skala kota bahwa keberagaman itu anugerah.
Disisi lain, juga merupakan tanggung jawab yang berat. Kota yang beragam butuh aturan main yang adil. Butuh ruang dialog. Butuh sistem yang dipercaya bersama.
Balikpapan sering mendapat apresiasi sebagai kota yang relatif tertata. Tata ruangnya cukup disiplin. Ruang terbuka hijaunya dijaga. Kawasan hutan lindung di dalam kota tetap dipertahankan. Ini bukan kebetulan. Ini hasil pilihan kebijakan selama bertahun-tahun.
Kita tahu, godaan pembangunan fisik selalu besar. Mengubah ruang hijau menjadi kawasan komersial sering terlihat lebih cepat menghasilkan. Tapi kota yang bijak berpikir panjang. Lingkungan bukan penghambat pembangunan. Justru penyangga keberlanjutan. Seperti kata tokoh lingkungan hidup, “Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur kita, kita meminjamnya dari anak cucu kita.” Kalimat ini relevan untuk semua kota, termasuk Balikpapan.
Kini, tantangan baru hadir di depan mata: pembangunan Ibu Kota Nusantara. Secara geografis, Balikpapan adalah gerbang utamanya. Dampaknya sudah terasa, pergerakan orang meningkat, Aktivitas logistik naik. Sektor jasa tumbuh. Nilai lahan terdorong. Peluang terbuka lebar, tapi risiko juga nyata. Kepadatan. Tekanan infrastruktur. Kesenjangan ekonomi. Urban sprawl. Semua bisa terjadi jika tidak dikelola dengan cermat.
Disinilah kedewasaan kota ini diuji. Tidak semua peluang harus diambil sekaligus. Tidak semua pertumbuhan harus dipercepat tanpa pertimbnagn yang matang. Kota perlu ritme. Perlu prioritas. Perlu perencanaan berbasis data.
Data pembangunan manusia di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa Balikpapan termasuk daerah dengan capaian indeks pembangunan manusia yang tinggi di regional. Pendidikan, kesehatan, dan daya beli relatif baik. Ini modal dasar, tapi modal saja tidak cukup. Harus dijaga dengan tata kelola yang kuat dan hal itu tidak bisa dilepaskan dari demokrasi lokal yang sehat.
Demokrasi bukan hanya urusan nasional. Justru dampak terdekatnya ada di tingkat kota. Siapa wali kota, siapa anggota DPRD, bagaimana arah kebijakan daerah. Semua ditentukan melalui proses demokrasi. Hasilnya langsung dirasakan warga. Dari kualitas layanan publik. Dari arah anggaran. Dari prioritas pembangunan.
Abraham Lincoln pernah mengatakan, “Democracy is government of the people, by the people, for the people.” Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Kalimat ini sederhana. Tapi berat dalam praktik. Karena kuncinya ada di partisipasi dan kepercayaan rakyat.
Di sinilah peran penyelenggara pemilu menjadi penting. KPU, di semua tingkatan, bekerja memastikan satu hal mendasar: suara warga tercatat, terlindungi, dan dihitung dengan benar. Prosesnya transparan. Prosedurnya jelas. Aksesnya setara.
Kerja ini sering tidak terlihat di permukaan. Tapi dampaknya menentukan legitimasi kepemimpinan. Tanpa pemilu yang kredibel, hasilnya akan selalu diperdebatkan. Tanpa data pemilih yang akurat, hak konstitusional bisa hilang. Tanpa proses yang dipercaya, stabilitas sosial bisa terganggu.
Oleh karena itu, demokrasi yang baik bukan demokrasi yang paling ramai. Tapi yang paling dipercaya.
Partisipasi pemilih di Balikpapan dalam berbagai pemilu terakhir menunjukkan tren yang cukup baik. Ini patut diapresiasi. Artinya kesadaran warga untuk terlibat masih terjaga. Tapi tidak boleh membuat kita puas diri. Partisipasi harus terus dirawat melalui pendidikan pemilih, literasi politik, dan akses informasi.
Bung Hatta pernah mengingatkan, “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Tetapi tidak jujur itu sulit diperbaiki.” Pesan ini relevan untuk semua aktor demokrasi. Penyelenggara, Peserta, Pemilih, Kita semua.
Kota yang maju butuh warga yang peduli. Tidak cukup hanya datang ke TPS. Tapi juga mau mengikuti isu publik. Membaca rencana pembangunan, Memberi masukan, Mengkritik dengan data, Mendukung dengan argumen.
Media lokal dan media daring di Kalimantan Timur punya peran besar di sini. Menyediakan ruang diskusi. Menyajikan informasi yang terverifikasi. Menjadi jembatan antara kebijakan dan warga. Opini publik yang sehat membantu pemerintah tetap waspada dan terbuka.
Balikpapan ke depan akan menghadapi tiga agenda utama sekaligus. Menjaga kualitas hidup, Mengelola pertumbuhan, Menguatkan partisipasi warga.
Kualitas hidup berarti layanan dasar harus stabil. Air bersih, Sanitasi, Transportasi, Pengelolaan sampah, Drainase, Fasilitas kesehatan, Pendidikan. Hal-hal mendasar ini lebih penting dari proyek simbolik.
Bahwa mengelola pertumbuhan berarti disiplin tata ruang. Kota pesisir seperti Balikpapan punya kerentanan ekologis. Salah kelola bukit dan daerah resapan bisa berdampak pada banjir dan longsor. Pembangunan harus berbasis kajian, bukan sekadar tren.
Menguatkan partisipasi berarti membuka ruang dialog. Musyawarah perencanaan pembangunan jangan hanya formalitas. Konsultasi publik jangan hanya undangan. Warga harus benar-benar didengar.
Untuk itu, ulang tahun kota ini mari kita jadikan momen refleksi bersama. Apa yang sudah tepat, kita lanjutkan. Apa yang kurang, kita perbaiki. Apa yang salah, kita luruskan.
Sebagai bagian dari ekosistem demokrasi di kota ini, saya percaya satu hal: kualitas kota sangat dipengaruhi kualitas partisipasi warganya. Semakin sadar hak dan kewajibannya, semakin kuat fondasi kotanya.
Semoga Balikpapan tetap menjadi kota yang tertata dan nyaman dihuni. Semoga pertumbuhannya inklusif, tidak meninggalkan kelompok rentan. Semoga lingkungannya tetap dijaga di tengah laju pembangunan. Semoga warganya makin aktif berpartisipasi dalam proses demokrasi. Semoga setiap pemilu dan pilkada di kota ini terus berlangsung jujur, adil, dan dipercaya. Dan semoga Balikpapan tidak hanya tumbuh sebagai kota penyangga ibu kota negara, tetapi berdiri kokoh sebagai kota maju dengan identitas dan kebanggaannya sendiri.
Selamat ulang tahun ke-129, Kota Balikpapan. Terus bertumbuh, terus berbenah bersama warganya, bersama demokrasinya. Tabik.