NusaUtaraTV.Com, Balikpapan, — Pulau Maratua di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menjadi salah satu contoh bagaimana pembangunan infrastruktur digital mampu mengubah wajah wilayah terluar Indonesia. Kehadiran jaringan internet yang semakin merata tidak hanya memperluas akses komunikasi, tetapi juga mendorong peningkatan layanan pendidikan, pemerintahan, hingga sektor pariwisata yang menjadi andalan daerah tersebut.
Transformasi digital di pulau yang berada di kawasan perbatasan Indonesia itu didorong melalui berbagai program yang dijalankan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), mulai dari pembangunan BTS 4G Universal Service Obligation (USO) hingga penyediaan akses internet di fasilitas publik.
Plt Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano mengatakan, tingginya pemanfaatan layanan internet di sejumlah titik menunjukkan masyarakat telah mampu mengoptimalkan teknologi digital dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
“Pemanfaatan yang tinggi, terutama di sekolah dan kantor kampung, menunjukkan masyarakat Berau sudah sangat siap memanfaatkan dunia digital. Tugas kami memastikan akses tersebut hadir, andal, bermanfaat, dan terus ditingkatkan kualitasnya,” kata Darien, Kamis (11/6/2026).
Salah satu contoh pemanfaatan internet terlihat di SD Negeri 001 Payung-Payung. Sekolah tersebut tercatat menjadi salah satu titik layanan internet dengan aktivitas pengguna tertinggi di Kabupaten Berau.
Melalui konektivitas yang tersedia, guru dan siswa kini dapat mengakses berbagai materi pembelajaran digital yang sebelumnya sulit diperoleh karena keterbatasan geografis. Kehadiran internet juga membuka peluang bagi sekolah untuk menerapkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis teknologi.
Tidak hanya sektor pendidikan, layanan digital juga dimanfaatkan oleh Kantor Kampung Payung-Payung dan Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Maratua untuk mendukung aktivitas pelayanan publik dan komunikasi.
Sementara itu, BTS USO yang beroperasi di Kampung Bohesilian secara konsisten melayani ratusan pengguna setiap bulan dengan tingkat keandalan jaringan yang dinilai stabil.
Menurut Darien, BAKTI terus melakukan peningkatan kapasitas jaringan di wilayah yang menunjukkan pertumbuhan trafik internet cukup tinggi.
“Kami terus memantau tingkat utilisasi jaringan. Di lokasi yang penggunaan internetnya meningkat signifikan, kapasitas bandwidth akan ditambah agar kualitas layanan tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Konektivitas digital juga memberikan dampak ekonomi yang semakin terasa. Pelaku usaha pariwisata di Maratua kini dapat memanfaatkan platform digital untuk promosi destinasi, reservasi penginapan, pemasaran paket wisata, hingga transaksi pembayaran secara elektronik.
Status Kampung Payung-Payung sebagai Desa Wisata Bahari turut memperkuat pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung sektor pariwisata yang berkembang pesat di kawasan tersebut.
Data Bandara Maratua menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan kunjungan wisatawan tersebut turut mendorong berkembangnya usaha akomodasi dan layanan wisata di pulau tersebut.
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, digitalisasi juga dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat keberadaan negara di wilayah perbatasan. Sebagai salah satu pulau terluar yang berbatasan dengan jalur internasional, Maratua menjadi kawasan penting dari sisi keamanan maupun pembangunan ekonomi.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi dalam upaya memperluas manfaat transformasi digital. Sejumlah wilayah di Berau telah memasuki kategori penggunaan jaringan yang tinggi sehingga membutuhkan peningkatan kapasitas infrastruktur telekomunikasi.
Di sisi lain, pengembangan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara produktif. Program literasi digital, pendampingan UMKM, serta penguatan ekosistem ekonomi berbasis digital dinilai perlu terus diperluas.
Darien menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh tersedianya jaringan internet, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar menghadirkan konektivitas, tetapi memastikan masyarakat mendapatkan manfaat nyata melalui akses pendidikan yang lebih baik, pelayanan publik yang lebih cepat, dan peluang ekonomi yang lebih luas,” katanya.
Dengan perkembangan tersebut, Pulau Maratua menunjukkan bahwa wilayah terluar Indonesia dapat tumbuh menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial yang terkoneksi dengan dunia digital, sekaligus menjadi contoh keberhasilan pemerataan pembangunan berbasis teknologi di kawasan perbatasan.