https://nusautaratv.com/
Tutup Menu
20 Jul 2025 | Dilihat: 1411 Kali

GPdI Philadelphia Tenggarong Bahas AI dan Rohani Bersama Irjen Pol Yehu

noeh21
      
Gereja Jadi Ruang Dialog Antara Iman, Teknologi, dan Keteladanan
 
Nustar TV nusautaratv.com, KUTAI KARTANEGARA, TENGGARANG - Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Philadelphia Tenggarong, Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi saksi pertemuan langka antara dunia spiritual dan teknologi pada Jumat, 18 Juli 2024. Dua agenda penting digelar dalam sehari penuh, seminar bertajuk Artificial Intelligence (AI) dan Masa Depan Gereja, serta Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang dipimpin langsung oleh Irjen Pol Yehu Wangsajaya, atau lebih dikenal Jenderal Bersahaja.
 
Kegiatan tersebut menjadi momen bersejarah bagi jemaat. "Kami sangat bersyukur bisa dikunjungi Pak Irjen Yehu. Ini kesempatan yang jarang, dan kami merasa diberkati, baik secara ilmu pengetahuan maupun secara rohani," ujar Pendeta Ekklesia Tumundo, M.Pd., M.Th., Gembala Sidang GPdI Philadelphia Tenggarong, kepada wak media usai acara.

 
Acara seminar yang berlangsung itu membahas topik krusial tentang keterlibatan gereja dalam perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan. Sementara malam harinya, atmosfer berubah menjadi penuh kontemplasi dan pujian dalam sesi KKR yang mengangkat pesan-pesan iman dan penguatan spiritual.
 
Pendeta Ekklesia mengapresiasi keseimbangan antara dua dimensi tersebut. "Agenda ini benar-benar memperkaya, karena tidak hanya mengisi kami dengan pengetahuan tentang teknologi, tapi juga memperdalam kehidupan rohani," ujarnya.

 
Dalam sesi seminar, Irjen Yehu Wangsajaya memaparkan tantangan yang akan dihadapi gereja di era teknologi tinggi, sekaligus peluang yang bisa dimanfaatkan oleh umat beragama untuk tetap relevan dan berdampak di tengah masyarakat digital.
 
Menurut Pendeta Ekklesia, banyak hal baru yang didapat jemaat dari materi seminar tersebut. "Ada banyak wawasan, terutama tentang bagaimana teknologi seperti AI bisa digunakan untuk pelayanan. Tapi juga ada peringatan tentang dampak negatifnya jika tidak dikelola secara etis," jelasnya.

 
Kehadiran Irjen Yehu sebagai pembicara utama menjadi daya tarik tersendiri. Tak hanya karena jabatannya sebagai perwira tinggi polisi, tapi juga karena latar belakang akademiknya di bidang komputer dan teknologi informasi.
 
"Beliau ini unik. Seorang jenderal tapi juga sangat menguasai dunia teknologi. Di sisi lain, beliau sangat memahami kehidupan spiritual. Kombinasi ini sangat jarang," kata Pendeta Ekklesia.
 
Ia menilai, sosok Irjen Yehu mencerminkan pribadi yang tegas namun tetap membumi. "Beliau itu clear, tegas, tapi juga humble. Sulit menemukan pemimpin yang punya keseimbangan seperti itu," tambahnya.

 
Kegiatan ini juga memberi contoh bagaimana gereja bisa menjadi ruang dialog yang terbuka terhadap perkembangan zaman, tanpa kehilangan identitas spiritualnya. Pendeta Ekklesia menyebut, gereja tidak bisa lagi bersikap eksklusif atau menutup diri dari kemajuan teknologi.
 
"Gereja tidak boleh alergi terhadap perubahan. Justru harus menjadi pelopor pemahaman yang sehat tentang teknologi dan bagaimana menggunakannya untuk kebaikan umat," katanya.
 
Ia juga berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi agenda rutin yang mengundang para pemikir dan praktisi dari berbagai bidang untuk berdialog dengan gereja. Tujuannya, memperkuat peran gereja di tengah masyarakat yang makin kompleks.

 
Menurutnya, gereja masa depan tidak cukup hanya kuat dalam doktrin, tapi juga harus cakap membaca realitas sosial dan teknologi yang berkembang. "AI dan disrupsi digital bukan sekadar isu teknis, tapi menyentuh etika, relasi sosial, bahkan teologi," ujarnya.
 
Kegiatan tersebut dihadiri ratusan jemaat dari wilayah sekitar. Mereka menyambut hangat materi seminar dan kesaksian dalam ibadah malam hari.

 
Pendeta Ekklesia menyebut, antusias jemaat sangat tinggi karena acara menghadirkan sudut pandang baru yang belum banyak disentuh di forum-forum gereja konvensional.
 
"Banyak yang bilang ini pengalaman yang membuka mata. Selama ini kita bicara iman, tapi jarang mengaitkan dengan dunia digital secara langsung," ujarnya.

 
Lebih dari sekadar acara seremonial, momen ini menegaskan bahwa gereja juga perlu menjawab persoalan kontemporer umat, termasuk bagaimana menyikapi tantangan etis dari teknologi baru seperti AI.
 
Terakhir, Pendeta Ekklesia berharap acara ini menjadi inspirasi bagi gereja-gereja lain di Kalimantan Timur dan nasional untuk membuka ruang diskusi lintas sektor, antara iman, ilmu, dan masa depan.
 
"Ini bukan akhir, tapi awal dari gereja yang lebih relevan dan berdampak," pungkasnya. 
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas