Nustar TV
nusautaratv.
com, KUTAI KARTANEGARA, TENGGARONG - Setelah membawakan seminar bertajuk Artificial Intelligence dan Gereja di Masa Depan dalam rangka ulang tahun Gereja Bethel Indonesia (GBI) Rayon 8 Samarinda, Irjen Pol. Dr. Drs. Yehu Wangsajaya, M.Kom., melanjutkan pelayanannya ke Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Philadelphia Tenggarong, Kalimantan Timur (Kaltim)
Malam itu, Jumat, 18 Juli 2025, suasana khusyuk menyelimuti gedung gereja saat Irjen Yehu memimpin langsung Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Ratusan jemaat dari berbagai kalangan memenuhi bangku-bangku gereja, mengangkat tangan dalam pujian dan penyembahan. Pesan malam itu tetap sejalan dengan tema yang ia bawa sejak seminar sebelumnya: teknologi bisa jadi alat, tapi jangan menggeser peran spiritualitas.
Dalam sesi KKR yang berlangsung lebih dari dua jam itu, Yehu kembali menekankan bahwa teknologi termasuk kecerdasan buatan atau AI merupakan buah pikir manusia yang seharusnya dimanfaatkan dengan bijak.
"AI itu hanya alat. Tapi kasih, pengampunan, dan suara Tuhan tidak bisa dibuat oleh algoritma," ujarnya di hadapan jemaat.
Pesannya malam itu tak hanya bersifat teknis atau akademis, tetapi menyentuh sisi batin jemaat. Ia menyampaikan bahwa kehadiran teknologi seharusnya memperkuat, bukan menggantikan relasi manusia dengan Tuhan.
"Silakan pakai AI untuk bantu buat materi khotbah, tapi jangan berharap AI bisa menjadi pembawa pewahyuan ilahi," katanya, disambut anggukan dari para hamba Tuhan dan pelayan mimbar yang hadir.
Sikap Yehu yang tegas namun terbuka dalam menyikapi perkembangan teknologi mencerminkan perpaduan antara dunia akademik dan dunia rohani yang ia geluti. Sebagai perwira tinggi Polri yang juga bergelar magister komputer, ia memahami dinamika perubahan zaman. Tapi sebagai pengkhotbah, ia juga paham bahwa nilai-nilai kekal tak boleh dikesampingkan.
"Kalau gereja menolak AI, kita akan tertinggal. Tapi kalau kita pelajari dan arahkan, kita bisa manfaatkan itu untuk memperluas pelayanan," ucapnya.
Dalam seminar sebelumnya, Yehu telah menyampaikan pentingnya etika dalam pemanfaatan AI. Di hadapan ratusan peserta seminar, ia mengingatkan bahwa AI diciptakan untuk membantu manusia, bukan mengambil alih peran spiritual.
"AI bisa bikin lirik lagu rohani, bahkan menulis khotbah. Tapi mengurapi? Tidak bisa," kata Yehu dengan nada mantap.
Menurut Jenderal Bersahaja ini, kecerdasan buatan bekerja dengan logika dan data. Sedangkan kehidupan iman berjalan dalam relasi dan penghayatan. Karena itu, ia menyarankan agar gereja memanfaatkan AI secara bijak, tanpa menyerahkan aspek-aspek rohani kepada sistem digital.
Di GPdI Philadelphia Tenggarong malam itu, atmosfer kebaktian menjadi bukti nyata bahwa teknologi tak bisa menggantikan kehadiran spiritual. Meski Irjen Yehu dikenal sebagai pakar teknologi, namun pendekatannya pada jemaat sepenuhnya humanis dan penuh kasih.
Jenderal Yehu menyampaikan bahwa tantangan zaman ini bukan hanya kemajuan teknologi, tetapi kehilangan arah spiritual jika tidak disertai kedewasaan iman.
"Generasi muda hari ini sedang berdiri di antara dua dunia: dunia virtual dan dunia rohani. Jangan sampai salah memilih," serunya dari mimbar.
Ia juga menekankan pentingnya literasi digital sebagai pelengkap dari literasi iman. Menurutnya, generasi Kristen masa kini harus dibekali tidak hanya dengan Alkitab, tetapi juga dengan pemahaman teknologi agar mampu menjangkau lebih luas.
"Gereja harus masuk ke ruang digital, tapi jangan kehilangan integritas spiritual," ujarnya lagi.
Di sesi doa penutup, Yehu mendoakan para pemimpin gereja, pelayan ibadah, hingga para remaja dan pemuda. Ia berharap semangat kepeloporan teknologi dapat dipadukan dengan keteguhan iman.
Dalam pandangannya, kolaborasi antara iman dan teknologi bukan hal yang mustahil. Namun harus diawali dengan sikap bijak dan dasar moral yang kuat.
"AI tidak punya roh. Manusia punya. Karena itu, kendalikan teknologi, jangan dikendalikan olehnya," tutup Irjen Yehu malam itu, sebelum meninggalkan mimbar dengan senyum tenang.
Dampak pelayanan Irjen Pol. Yehu Wangsajaya, dalam rangkaian seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di GPdI Philadelphia Tenggarong masih terasa kuat di kalangan jemaat. Selain membawa pesan soal pentingnya pemanfaatan teknologi secara bijak dalam kehidupan rohani, kehadiran Yehu juga disebut memberi inspirasi dan penguatan iman.
Pdt. Y.A. Traksin, SE, S.PdK, M.Th., selaku Gembala Sidang GPdI Filadelfia Perjiwa, menyampaikan rasa syukur dan kesan mendalam atas penyertaan Tuhan selama dua hari kegiatan rohani tersebut. Dalam keterangannya, ia menilai seminar dan KKR yang dipimpin langsung oleh Irjen Yehu bukan sekadar acara keagamaan biasa, melainkan sebuah momentum rohani yang berdampak luas.
"Kami sangat bersyukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya dalam seminar kemarin yang dibawakan oleh Bapak Irjen Pol. Yehu Wangsajaya. Materi yang disampaikan sangat membangun, membuka wawasan, dan memberi inspirasi iman bagi seluruh peserta," ujar Pdt. Traksin.
Ia juga menambahkan bahwa suasana malam KKR yang berlangsung di gereja tersebut penuh dengan hadirat Tuhan. Firman disampaikan dengan kuat, menyentuh hati banyak jemaat yang hadir.
"Malam harinya, suasana KKR dipenuhi oleh hadirat Tuhan firman disampaikan dengan kuasa, dan banyak jiwa diberkati serta dikuatkan," lanjutnya.
Menurut Pdt. Traksin, kegiatan itu telah menjadi titik balik bagi sebagian jemaat yang mulai melihat teknologi sebagai bagian dari pelayanan, tanpa meninggalkan dasar iman yang kokoh.
"Ini bukan sekadar kegiatan, tetapi momentum rohani yang akan terus berdampak bagi kehidupan banyak orang," tuturnya.
Acara KKR pun berakhir dengan suasana syahdu dan optimisme baru. GPdI Philadelphia Tenggarong malam itu tak hanya menjadi rumah ibadah, tapi juga ruang refleksi atas masa depan gereja di tengah arus teknologi yang kian deras.