22 Juni 2023 | Dilihat: 168 Kali
    

Cegah Abrasi Pantai, PPLi Bersama Relawan Tanam 200 Bibit Mangrove di Pesisir Pantai Wisata Lamaru

Masih dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2023 yang jatuh pada 5 Juni lalu, Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLi) tergerak untuk melakukan aksi penanaman bibit mangrove, 

Sebanyak 200 batang bibit mangrove ditanam di pesisir Pantai Wisata Lamaru, Balikpapan, oleh para karyawan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan dan daur ulang limbah ini. Sejumlah relawan dari berbagai komunitas juga turut serta, termasuk para awak media.

Sebelum memulai kegiatan penanaman, acara dimulai dengan diskusi Ngopling (Ngobrol Peduli Lingkungan) yang mengangkat tema Waspada Bahaya Abrasi dan Limbah B3 di Kalimantan Timur, yang menghadirkan pembicara Public Relation Manager PPLi, Arum Tri Pusposari, Kabid Pengendalian Pencemaran Kerusakan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Irma Nurmayanti, dan peraih Kalpataru Provinsi Kalimantan Timur kategori pengabdi lingkungan, Bripka Taufik Ismail, yang juga personil Ditpolairud Polda Kaltim.

Arum Tri Pusposari mengatakan bahwa PPLi memilih kegiatan penanaman mangrove karena tanaman pesisir ini terbukti mampu menjadi garda terdepan menahan abrasi dan mengurangi dampak pencemaran di kawasan pesisir pantai.

"Dan ini tentuk selaras dengan perusahaan kami yang bergerak dalam pengelolaan limbah termasuk B3. Dan mangrove terutama tanaman bakau dapat menahan logam berat dan limbah dalam persoalan lingkungan, termasuk bahaya lainnya yaitu abrasi pantai,” ungkapnya. Rabu, (21/06/2023).

Wanita yang kerap di sapa Arum, juga menyampaikan bahwa fungsi daripada mangrove juga selaras dengan komitmen perusahaan PPLI dalam mencegah dan meminimalisir limbah B3 yang ada di Indonesia.

Selain itu, Arum mengungkapkan, bahwa PPLi juga berencana menyusun strategi terkait pengelolaan limbah di Kota Balikpapan. “Jadi kami berusaha semaksimal mungkin mensupport dan membantu industri-industri yang ada dikalimantan, terutama untuk industri migas,” tukasnya.

Sementara itu di kesempatan yang sama, Bripka Taufik Ismail memberikan himbauan berupa pelestarian ekosistem pesisir seperti tanaman mangrove dari limbah industri maupun rumah tangga. Dirinya mengaku bangga, masih ada kelompok masyarakat yang ingin mengenal dan melestarikan mangrove. 

Taufik menilai, bahwa ekosistem tanaman mangrove adalah kekayaan alam Indonesia khususnya Kalimantan Timur atau Kaltim yang harus dijaga karena mampu menangksl abrasi pantai maupun mengurangi limbah di area perairan.

Mengenai teknis penanaman mangrove,Taufik menjelaskan, bahwa penanaman mangrove dilihat dari bibitnya terlebih dahulu. "Bibitnya apakah siap ditanam di tempat terbuka atau tidak. Jadi jangan banyak menanam dengan bibit yang tidak siap, lebih baik sedikit, tapi tepat dan terawat," tuturnya.

"Yang baik itu bibit usia 6 bulanan, kemudian tumbuh dalam waktu dua tahun. Dan itu harus diperiksa, memastikan agar bibit itu bisa tumbuh dan lestari. Jadi setelah di tanam itu juga harus dirawat," jelasnya lagi. 

Hal senada disampaikan oleh Irma Nurmayanti, bahwa tanaman mangrove menjadi perhatian khusus, selain dapat menahan abrasi pantai juga menahan limbah logam.

“Setiap tahun kami melakukan rehabilitasi di berapa titik kawasan mangrove Balikpapan,” bebernya.

Irma melanjutkan, mangrove mempunyai peranan penting untuk menjaga keberlangsungan lingkungan khususnya di kota Balikpapan.Penanaman mangrove ini juga berkaitan dengan pencegahan abrasi pantai, karena bisa dilihat garis pantai semakin berkurang

“Makanya penting, bagaimana penanggulangan supaya tetap terjaga, salah satunya penanaman mangrove dan juga adanya perubahan iklim,” tutupnya.